Bagai pungguk yang merindukan bulan. Sang pungguk terus menanti. Meski hujan badai dan kemarau berkepanjangan datang silih berganti, ia tetap menanti. Karena bulan adalah perwujudan akhir dari kebahagiaan baginya.
Namun bulan tak mendekat. Bahkan kadang menghilang dari langit malam. Pungguk gelisah saat menanti bulan kembali. Bahkan kegelisahan itu semakin menjadi saat melihat bulan kembali bertahta di puncak langit namun tak sempurna. Apa yang terjadi padamu, duhai rembulan? Perjalanan apa yang telah kau arungi? Apakah siang melemahkanmu? Apakah matahari membakarmu? Ia tak kunjung menemukan jawaban. Seiring berjalannya waktu, ia menyadari. Itulah fase kehidupan bulan. Purnama - menghilang - terluka - perlahan sembuh - dan kembali purnama. Ia hanya bisa berdoa pada Tuhan, agar bulan selalu purnama. Karena pada saat itulah bulan memancarkan seluruh sinarnya.
Bulan terlihat bahagia.Dan penantian itu berlanjut. Penantian yang tak berkesudahan. Sang pungguk hanya bisa merindu di garis bumi. Memandang bulan dengan harapan, semoga suatu saat nanti bisa bersua. Tak perlu lagi bersembunyi di bawah awan. Tak perlu lagi mengintip malu dibalik dedaunan, namun ia sekadar mimpi, pungguk akan tetap merindu.
No comments:
Post a Comment